Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 September 2011

ModEL pEmbeLajaRaN

Inquiry Based Learning

Inkuiri yang dalam bahasa Inggris inquiry, berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Menurut Gulo, dalam Trianto (2010:166), strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Tujuan :
Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah ke dalam waktu yang relatif singkat. Latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, roduktif dalam berpikir kreatif, dan siswa menjadi trampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.

Manfaat:
Manfaat dari pembelajaran Inquiry adalah:
1. IBL adalah pendekatan yang baik dalam proses belajar mengajar untuk memberi siswa kesempatan belajar dengan lebih bebas namun juga tetap mengenalkan dan mendidikkan keahlian-keahlian dasar.
2. IBL bersifat fleksibel dan cocok untuk bermacam-macam proyek mulai dari yang sangat terbatas sampai yang ekstensif, mulai dari yang berorientasi riset sampai yang kreatif, di dalam laboratorium ataupun di internet.
3. Dalam banyak kasus, siswa yang bermasalah di sekolah formal karena tidak merespon terhadap proses menyerap maupun mengingat kembali pelajaran malah bisa bersinar dalam lingkungan kelas IBL, membangun rasa percaya diri, minat, dan harga diri mereka.
4.  IBL memungkinkan pembelajaran multidisiplin secara langsung. Kalau di kelas konvensional, siswa belajar matematika sebentar, lalu belajar geografi, lalu belajar seni, dst. Kalau di kelas IBL, karena berbasis pertanyaan dan proyek, maka siswa bisa dan bahkan perlu belajar dari beberapa subjek sekaligus.
5.  Kelas IBL memungkinkan siswa mendapat pembelajaran secara fisik, emosi, dan kognitif. Kalau kelas konvensional? Bohong lah kalau kita bilang kelas konvensional tidak cenderung berat ke arah kognitif saja.
6. IBL cocok untuk mengajarkan pembelajaran kolaboratif. Siswa diajarkan saling berinteraksi dan berkolaborasi memecahkan masalah.
7.  IBL cocok untuk segala usia. Walaupun siswa yang lebih dewasa bisa mengajukan pertanyaan dan proyek yang lebih canggih dan berbobot, namun semangat mengajukan pertanyaan dan aktivitas mengejar jawabannya bisa juga dididikkan pada siswa-siswa yang lebih muda.
8.  Pendekatan IBL menyadari bahwa tiap anak telah membawa pengalaman dan pengetahuannya sendiri ke dalam kelas dan justru membawa manfaat bagi pembelajaran kolektif. Kalau di kelas konvensional, semua siswa mendapat pengajaran yang standar dan telah ditentukan oleh kurikulum, tidak peduli latar belakang siswa.


Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)


Pengertian:
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Rasional:
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemikiran Tentang Belajar:
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.

Hakekat:
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
  • Konstruktivisme , konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
  • Tanya jawab , dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
  • Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
  • Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat. 
  • Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
  • Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
  • Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.


Penerapan CTL dalam pembelajaran
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Co-operativ Beside Learning

Pengertian :
Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang dimediasi oleh siswa daripada instruktur. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja dalam kelompok untuk mengajar diri sendiri dalam konten yang tertutup. Guru dapat memanfaatkan berbagai struktur belajar sambil memberikan pembelajaran kooperatif.

Alasan Penggunaan Pembelajaran Kooperatif:
Belajar Ko-operatif merupakan strategi instruksional yang memungkinkan siswa untuk mengambil alih peran instruktur. Dalam banyak kasus, karena pembelajaran kooperatif adalah merupakan definisi interaktif proses belajar, maka akan dapat lebih menarik daripada kuliah yang luar biasa dan konsisten serta lebih menarik dari pada kuliah yang kurang efektif. Belajar Ko-operatif juga merupakan bahwasanya guru dapat menggunakan metode untuk menyuntikkan berbagai ide ke dalam pelajaran mereka dan ditangani secara efektif serta menyediakan pengaturan bagi siswa untuk belajar keterampilan sosial yang penting.

Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif:
Pembelajaran kooperatif dapat melibatkan kelompok-kelompok dari berbagai ukuran, dari dua siswa untuk kelompok yang sangat besar , meskipun sering dianggap tidak ideal. Sesi belajar kooperatif dapat digunakan sebagai cara bagi kelompok-kelompok untuk menutupi materi, memecahkan masalah, brainstorming, mengeksplorasi atau menciptakan ide-ide baru.

Perencanaan dan Pengimplementasian Pembelajaran Kooperatif :
1)     Komunitas Belajar Positif
Pembelajaran Kooperatif mungkin tidak berhasil jika siswa tidak diajarkan keterampilan interaksi positif. Untuk alasan itu, sebelum memulai pembelajaran kooperatif, guru harus memastikan bahwa ruang kelas mereka memiliki lingkungan belajar yang positif. Guru mungkin ingin bekerja dengan pelatih untuk memastikan bahwa prosedur pengelolaan kelas yang efektif di dalam tempat dan bahwa mereka mengajar dengan cara yang menciptakan proses belajar yang positif di lingkungan.

2)     Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran
Jika tujuan pembelajaran adalah belajar mekanik, maka pembelajaran kooperatif harus dirancang untuk memastikan bahwa siswa menguasai dari bagian konsep yang penting Jika tujuan pembelajaran adalah belajar metafora, maka pembelajaran kooperatif harus dirancang untuk menjamin siswa memiliki kesempatan untuk membangun pemahaman mereka sendiri dari konsep penting.

3)     Pilih sebuah Struktur yang Tepat Belajar
Guru harus meninjau struktur pembelajaran kooperatif untuk mengidentifikasi secara tepat salah satu pembelajaran yang akan terjadi.

4)     Gunakan Struktur Belajar Efektif
Untuk hasil terbaik, guru harus (a) jelas memahami struktur sebelum mengimplementasikannya, (b) jelas menjelaskan struktur untuk siswa, (c) guru memantau siswa dalam memastikan bagaimana mereka memahami dan menerapkan struktur, dan (d) de-bug struktur di muka


Individual Beside Learning


Pembelajaran individual adalah pelatihan yang bersifat individual karena pertimbangan adanya perbedaan-perbedaan diantara para peserta didik. Metode ini sangat sesuai digunakan dalam 'one-to-one situation', seperti pelatihan terhadap pejabat pengganti atau anggota tim di tempat kerja. Tidak seperti pembelajaran yang difasilitasi dimana instruktur memiliki peran yang lebih bersifat pasif, pada pembelajaran individual instruktur perlu mempertimbangkan dan memenuhi kebutuhan masing-masing peserta, sebagai contoh:
       J  Tingkatl belajar dan gaya belajar
       J  Sikap
       J  Kedewasaan
       J  Minat yang mempengaruhi tingkat belajar
       J  Motivasi
       J  Lingkungan belajar
Ini tidak selalu berarti bahwa para peserta berada di rumah , mereka dapat berada di ruang kelas namun tetap mengerjakan semuanya sesuai tahapannya masing-masing.

Jenis utama dari pembelajaran individual adalah:

       J  Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
       J  Resource-based learning (pembelajaran langsung dari sumber)
       J  Computer-based training (pelatihan berbasis komputer)
       J  Directed private study (belajar secara privat langsung)


Keuntungan-keuntungan:
       J  Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan
       J  Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
       J  Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi
       J  Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
       J  Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
       J  Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif

Beberapa kelemahan:
       J  Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
       J  Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
       J  Peran instruktur perlu berubah

Jenis pelatihan ini mungkin sangat sesuai jika instruktur tersebut memberikan on-the-job training bagi seseorang atau beberapa orang rekan. Sangat baik untuk menghubungkan pelatihan tersebut dengan latihan praktek yang didasarkan pada kebutuhan kerja misalnya, merencanakan suatu survei arsip, menyusun pedoman penilaian, dll. Juga dapat sangat efektif untuk memberikan pelatihan jenis ini sebagai tindak lanjut terhadap pelatihan secara tatap muka.

Program Pembelajaran Individual
PPI merupakan rumusan program pembelajaran yang disusun dan dikembangkan menjadi suatu program yang didasarkan atas hasil asesmen terhadap kemampuan individu anak. Oleh karena itu sebelum seorang guru merumuskan program pembelajaran individual terlebih dahulu harus melakukan asesmen. Ini mutlak dilakukan, karena dengan melakukan asesmen guru dapat mengungkap kelebihan dan kekurangan anak. Sekurang-kurangnya ada tiga kemampuan yang harus dikuasai guru agar dapat meberikan layanan pada anak berkebutuhan khusus secara professional, yaitu:  memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam:
(1) mengasesmen kemampuan akademik, dan non akademik,
(2) Merumuskan Program Pembelajaran Individual, dan
(3) melaksanakan pembelajaran.yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Mengasesmen Kemampuan Anak :
Ada enam langkah yang dilakukan dalam melaksanakan kegiatan asesmen, yaitu:
(1) Mendapatkan anak (kasus)
Tidak semua orang tahu layanan apa yang harus diberikan pada anaknya, demikian juga problema yang dihadapi anak mereka. Melalui pengamatan yang teliti pada semua aspek prilaku belajar anak, pada akhirnya guru dapat menemukan aspek prilaku anak yang perlu segera mendapatkan layanan.

(2) Mengembangkan screening
Mengembangkan screening dimaksudkan untuk mengetahui banyak tentang perkembangan anak dan masalah-masalah yang potensial dapat mengganggu perkembangan anak.

(3) Melaksanakan diagnosis
Diagnosis merupakan kegiatan evaluatif yang intensif terhadap kasus, yang dilakukan melalui observasi, wawancara, tes, dan sebagainya. Melalui diagnosis ini dapat ditemukan kelemahan dan kekuatan kasus sehingga berdasarkan pada hasil ini dapat ditentukan layanan pendidikan yang lebih sesuai.

(4) Merencanakan program layanan individual
Jika berdasarkan hasil diagnosis menunjukkan bahwa anak perlu diberikan layanan dini maka segera disusun dan direncanakan program layanan individual.

(5) Melaksanakan program monitoring
Program monitoring yang dilaksanakan secara berkala dimaksudkan untuk mengetahui ketepatan program intervensi yang telah direncanakan.

(6) Melaksanakan evaluasi
Evaluasi yang dilakukan secara komprehensif terhadap setiap langkah asesmen, dapat memberikan gambaran terhadap keefektifan program intervensi yang telah dirancang dan dilaksanakan. Kemungkinan juga melalui kegiatan evaluasi ini, intervensi yang telah deprogram diganti ataupun dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan anak.


Merumuskan Program Pembelajaran Individual:
Dalam rumusan program pembelajaran individual, hendaknya memuat sekurang-sekurangnya 5 (lima) aspek:
1)     Taraf kemampuan anak saat ini (diperoleh dari hasil asesmen), mendeskripsikan kelebihan , kekurangan dan aspek yang dibutuhkan anak.
2)     Rumusan tujuan umum (goals) yang akan dicapai dalam satu tahun dan dijabarkan lebih rinci pada rumusan tujuan yang bersifat khusus (objectives).
3)     Metode atau cara yang dipergunakan untuk mengembangkan kemampuan anak.
4)     Proyeksi tentang kapan kegiatan dimulai dan waktu yang dipergunakan untuk memberikan layanan.
5)     Prosedur evaluasi apa yang dipergunakan untuk mengukur keberhasilan ataupun kegagalan dalam memberikan layanan pada anak.

Menurut Kitano dan Kirby (1986) dalam Mulyono Abdulrrahman (2005) ada lima langkah dalam merumuskan program pembelajaran individual:
1)     Membentuk tim PPI, tim penyusun PPI terdiri atas guru kelas, guru bidang studi, kepala sekolah, guru GPK, orang tua atau tenaga ahli lain yang ada dan terkait dengan kondisi anak. Tim PPI ini bertanggungjawab atas program yang dirancang bersama.
2)     Menilai kekuatan, kelemahan, minat dan kebutuhan anak.
3)     Mengembangkan tujuan jangka panjang  dan tujuan jangja pendek.
4)     Merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan
5)     Menentukan metode evaluasi yang dapat dipergunakan untuk menentukan kemajuan anak

Rabu, 28 September 2011

ICT in Language Learning

Nowadays, teaching and learning activities closely related to ICT. According to Graham Davies which states that since over fifty years ago ICT has been develop and affect to the new way of learning and teaching activities in language learning. Recently, so many schools had complete facilities for learning and teaching activities with some media, for example ICT. As well as the school where I did the school experience, this school also has media technologies. This school has good facilities to facilitate the teacher and the students to have a better learning and teaching process in school. Seeing those technologies, I wonder if my master teacher had used this technology in his teaching.  

My master teacher did teach the students using some media technologies, but most of them are kind of old technologies such as tape recorder, VCD player, LCD projector (if he needs to use it) and personal laptop. He also told me that he often to search materials or worksheet from internet. At that time, the fact that he uses some sources from internet made me think that this teacher is quite modern as a teacher. Then, from those technologies I have mention above, I realized that the technologies for his language teaching associated with listening skills. So, I asked my master teacher about how he used those technologies. He said that he usually only used those when there was a listening materials. Other than listening materials, he rare to used other media in his class. I think media technologies which are usually use by him not only useful for listening but also for reading and speaking, for example, LCD projector. He can use LCD projector to improve students’ skills in reading or even speaking. Just in case, students can practice their speaking skills in presenting by using LCD projector.  

When my master teacher apply to use tape recorder or VCD player in his class, I think it was can be effective and ineffective. It was effective to improve students listening skills, but it could become ineffective if the students do not pay attention in listening it. I asked few of my master teacher’s students about how is his teaching way in class by using media technologies. Then, the students answered that he usually only use media technology in listening session. Many of the students admit they usually did not really pay attention to listen it, they were busy with their own things. In my opinion, effective or not a learning tool in language learning is based on the way teacher convey the material itself. Students can not be mastered the material by only learning thru learning tools. Otherwise learning tools are teachers’ aid to help them in teaching. 

If I were to teach the same lesson, I would improve my way of teaching by using Web 2.0 technology.  I would make my way of teaching different than the other teachers before. I don’t want my students get bored in class when I teach them. Basically, students who were born in 1990ers are digital native. So, I think they will be familiar and easily to follow if I use Web 2.0 technology in teaching. By using Web 2.0 technology, I would make my students understand the material thru video, music, software games or online learning. I would make my students have group discussion thru online forum or make them have assignments thru online materials and sources. The students can learn language not only in language laboratory but also in ICT laboratory. They can use ICT laboratory when they discuss and finish the assignments by online learning. Those are the way I use Web 2.0 technologies if I were a teacher later on. 

Reflection of School Experience

The school experience in this semester is being a teacher assistant in a public school. I found so many interesting things in SMAN 12. At first, I thought that being teacher assistant will be hard since  this  is  my  first  time  to  assisting  a  teacher  of  national  plus  public  school  and  I  became  so nervous. I just thought to do my best to help my master teacher.  I also thought that maybe from this assisting I can know how the real teaching in class with some method is. For these two weeks I will get more information, knowledge and experience from the school. 

During  the  first  and  second  week  of  our  school  experience  my  master  teacher  had  no material  to  teach  in  class  because  this  week  for  class  XI  only  has  examination  and  drama performance. So, he just told us to finish our lesson plan for next week teaching performance. He also asked us to make rubric for drama performance, and then he compared with his own style of rubric after we finish discussed about what rubric is (he never use rubric before in  assessing the students). After we discussed about the rubric and then my group finished our rubric, in the end he still use his own style of rubric (with five classification which is usually rubric has 4 classification). 

Overall, the first week observation is running well even though my group couldn’t see how learning and teaching process in class. I hope the second week is more interesting and challenging than the first week because I have to teach the class. I will do my best to teach the class, make the class actively and lively than my master teacher ever did. Then, the second week had come. “This is the time!” that was the word which came out of my mind when second week of school experience come. Yes, that was the time to do team teaching. I was so nervous because have to teach in class, more nervous because that was the first time to teach in class. There are so many plans that came out of my mind to prepare everything in class. I thought how to handled the students if they do not pay attention or how to raise my volume of voice if they noisy and so on.  

Actually,  the  way  my  master  teacher  seems  a  bit  boring  for  the  students.  I  asked  some students about his teaching ways and compare to my team teaching ways, then almost of them saidthat the way he taught them wasn’t really special different from us. Then, I know that my master teacher might be doesn’t have any interesting ways or methods in teaching. From my master teacher lesson plan I also found that there are some activities in class that do not appropriate in class. For example he asked the each student to do library research about the lesson on that day and make their own notes based on their understanding about the lesson. Then I asked him how about the result of their  research?  Then  he  answered  that  usually  in  the  end  of  the  material  chapter,  he  asked  the students to submit their note and he will mark it. I think better if he explains the material directly than  he  asked  the  students  to  do  that.  I  think  that  the  students  maybe  can  cheat  from  the  others without searching and understanding by themselves. I think my master teacher didn’t facilitate his students well as a teacher. 

If  I  were  the  teacher  I  will  make  my  class  more  interesting  and  make  the  students  more active by doing the useful activities. I’m not saying that my master teacher’s way of teaching is bad, but I will do better in the future as a teacher to make my students better too. I will improve their skills as long as I improve my way of teaching too. I will give the materials to the students by doing some useful way, for example the students analyze the problem based on learning by themselves not only  by  group  discussions.  If  they  find  the  difficulties,  I  will  facilitate  them  and  do  personal approaches to make them more understand the lesson. That’s what the students need from us as a teacher.